Sabtu, 17 Juli 2010

Kedelai Jempolan dari Kota Mendoan

Sejak kecil Sigit Prastowo, 38 tahun, tergila-gila pada mendoan. Penduduk Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, ini setiap hari menyantap mendoan. Di meja makan rumahnya pun harus selalu ada tempe tipis berselimut tepung bumbu dan rajangan bawang daun yang masih hangat. Tentu dengan sambal terasi atau cabai rawit sebagai pelengkap.


Banyumas, daerah asal Sigit, memang dikenal sebagai kota mendoan. Makanan khas hasil olahan tempe itu sudah seperti menu wajib bagi warga panginyongan. Sigit pun merasa bangga dengan mendoan yang sudah menjadi trademark kotanya. Tapi kebanggaan Sigit berkurang setelah tahu Banyumas bukanlah daerah penghasil kedelai, bahan baku tempe yang diolah menjadi mendoan. Perajin tempe mendatangkan kedelai dari daerah lain, bahkan mengimpornya dari Amerika Serikat.

Sigit pun merasa prihatin dengan hal ini. Ia kemudian bercita-cita menciptakan kedelai varietas unggul. Tujuannya: agar kedelai yang digunakan untuk membuat mendoan, makanan kebanggaan dan kegemarannya, berasal dari daerah sendiri.

Berkat “semangat mendoan” itulah akhirnya cita-cita Sigit pun menjadi kenyataan. Ia berhasil menemukan varietas kedelai unggul. Produktivitas varietas kedelai yang diberi nama kedelai Mulyowilis itu sangat tinggi, tahan penyakit, dan umur panennya pun singkat. Yang paling penting lagi, kualitasnya tak kalah dibanding kedelai impor sekalipun.

Berkat temuannya itu, Sigit memperoleh hak perlindungan varietas tanaman dari Pusat Perlindungan Varietas Tanaman Kementerian Pertanian pada 16 November 2009. Hak perlindungan atas varietas baru kedelai Mulyowilis itu melindungi hak cipta dan varietas hasil penyilangan Sigit untuk kurun 20 tahun.

Bulan lalu, Tempo menemui Sigit, yang juga Ketua Komunitas Pemerhati Kedelai, di kebun percobaannya di belakang Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Sambil lesehan, ia bercerita mengenai temuannya itu.

Menurut Sigit, penemuannya juga dilandasi keinginan melepaskan ketergantungan Indonesia dari kedelai impor--bahan baku tempe dan tahu yang digemari masyarakat. Maklum, negeri ini tidak memiliki varietas kedelai unggul. Kedelai yang ditanam pun rendah produktivitasnya, sehingga petani justru kerap merugi dan enggan menanamnya kembali. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia setiap tahun terpaksa mendatangkan sedikitnya 1,2 juta ton kedelai, terutama dari Amerika Serikat. Nilainya sekitar Rp 3 triliun.

Sigit intensif meneliti kedelai mulai 1999. "Saya bertekad membuat varietas kedelai lokal dengan kualitas tinggi," katanya. Tekadnya semakin bulat ketika pada 2002 dia menjadi tenaga laboratorium lapangan di Soybean Research and Development Center Universitas Jenderal Soedirman.

Sarjana peternakan itu kemudian mengumpulkan 70 varietas kedelai yang ada di Indonesia. Ia kemudian menanam kedelai itu di kebun percobaannya dan mulai menyilangkannya satu demi satu. Setelah bertahun-tahun meneliti sekian banyak varietas itu, dia memutuskan menggunakan kedelai wilis untuk disilangkan dengan varietas argomulyo. Kedua varietas ini mempunyai kelemahan dan keunggulan masing-masing serta sudah banyak dikenal masyarakat Indonesia.

Kedelai wilis dikenal memiliki daya adaptasi yang tinggi dan sebaran yang luas. Namun kedelai jenis ini juga mempunyai kelemahan. Selain bulirnya kecil, masa tanam kedelai wilis tergolong lama, yakni 90 hari. Kekurangan kedelai wilis ditutupi oleh silangannya, kedelai argomulyo. Kedelai jenis ini mempunyai kelebihan bulir besar dan masa tanam yang lebih pendek, hanya 82 hari. Argomulyo yang kurang daya adaptasinya ditutup dengan kelebihan wilis. Hasil persilangan itu diberi nama Mulyowilis--gabungan dari dua nama varietas asal. Kedelai ini diberi nama Latin Glycine max (L) Merrill dan masuk keluarga kedelai putih.

Mulyowilis mempunyai beberapa keunggulan, di antaranya ukuran biji yang besar, sekitar 17 gram per 100 biji. Kedelai ini juga memiliki jumlah polong yang lebat, 80-100 polong per tanaman. Masa tanamnya hanya sekitar 85 hari. Mulyowilis juga tahan terhadap hama dan penyakit, seperti karat daun. "Kedelai ini juga tahan hama ulat grapyak dan tahan hama penggerek polong," kata Sigit.

Biji kedelai yang dijadikan bibit bisa disimpan sampai dua tahun. Hal itu tak berpengaruh pada produktivitasnya. Selaput bijinya yang tebal dan mengkilap membuat kedelai itu tahan serangan jamur ataupun hama. Mulyowilis juga mampu berproduksi di lahan sawah ataupun lahan kering dan sesuai ditanam di musim hujan serta kemarau. Keunggulan lainnya, kedelai ini tahan terhadap tanah masam dengan kadar pH 4,5 sampai 5. "Saat menjelang panen, batangnya juga tahan rebah," katanya.

Yang paling penting, produktivitas kedelai Mulyowilis sangat tinggi. "Potensi hasilnya mencapai 3 ton per hektare," ujar Sigit. Dengan perawatan maksimal, bisa mencapai 3,5 ton per hektare. Produksinya jauh lebih tinggi daripada dua varietas kedelai “orang tua”-nya, yakni argomulyo dan wilis, yang hanya menghasilkan 1,5-2 ton per hektare.

Lukman, 38 tahun, petani di Desa Sidabowa, Banyumas, mengatakan kedelai Mulyowilis yang ditanamnya di satu hektare lahan menghasilkan 3,5 ton. Pemeliharaannya pun tak merepotkan. "Kedelai ini tahan tanpa pupuk dan pestisida," ujarnya. Asalkan ditanam di lahan bekas sawah, kata dia, tidak perlu banyak perawatan.

Duhoras, 50 tahun, perajin tahu dari Desa Patikraja, Banyumas, menuturkan bisa membuat tahu lebih banyak daripada biasanya dengan kedelai Mulyowilis. "Biasanya satu kilogram kedelai hanya menghasilkan 1,7 kilogram tahu. Sekarang satu kilogram bisa menghasilkan 2,9 kilogram tahu," ujarnya.

Dalam seminggu, Duhoras mengaku mampu menghabiskan 8 ton kedelai Amerika. Sejak sebulan lalu, dia beralih menggunakan kedelai Mulyowilis. Meski hanya mendapat pasokan satu kuintal, dia mengaku senang dengan hasil olahan kedelai itu.

Sigit mengatakan protein nabati kedelai ini juga lumayan tinggi, sekitar 43 persen, lebih tinggi daripada kedelai wilis, misalnya, yang hanya 38,27 persen. "Kalau dibuat susu, tidak bikin eneg," ujarnya. Istrinya, Laili Mustafidah, mengolah kedelai temuannya menjadi susu kedelai. Hasilnya, susu olahan dari kedelai Mulyowilis tak menimbulkan bau langu seperti kedelai biasa setelah diolah.

Meski prospeknya sangat baik, hingga saat ini, bibitnya masih sulit diperoleh. Menurut Sigit, kendala utamanya adalah terbatasnya lahan untuk pembibitan. Namun persoalan itu tampaknya akan segera teratasi. Wakil Bupati Banyumas Achmad Husein mengatakan Pemerintah Kabupaten Banyumas siap menyediakan 4 hektare lahan untuk pembibitan kedelai tersebut. “Soal biaya, bisa bekerja sama dengan perusahaan daerah sini,” katanya.

Kelak, kata Achmad, Banyumas bahkan mampu menyediakan 100 hektare lahan untuk ditanami kedelai. Jumlah ini diperkirakan mencukupi kebutuhan kedelai masyarakat Banyumas. “Kota mendoan jangan sampai kekurangan kedelai,” katanya.

Sigit, yang mengaku menghabiskan Rp 284 juta untuk penelitian itu, mengatakan kedelai temuannya sudah diuji coba dan berhasil dengan baik di Lampung, Kalimantan, Parepare, dan Bali. Ia berharap kelak Mulyowilis bisa ditanam di seluruh Indonesia.

Gunanto E.S., Aris Andrianto (Banyumas)


Sumber :
http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2010/03/14/brk,20100314-232397,id.html
14 Maret 2010

2 komentar: